Pendahuluan

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 Tahun 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah. Edaran tersebut diberlakukan sejak Agustus 2012 yang intinya menyatakan bahwa: (1) lulusan program sarjana harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah; (2) lulusan program magister harus menghasilkan makalah yang diterbitkan oleh jurnal nasional diutamakan yang terakreditasi Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi; dan (3) lulusan program Doktor harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal internasional 

(1) lulusan program sarjana harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah; (2) lulusan program magister harus menghasilkan makalah yang diterbitkan oleh jurnal nasional diutamakan yang terakreditasi Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi; dan (3) lulusan program Doktor harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal internasional.

Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 Tahun 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah 

Terlepas dari pro-kontra terhadap surat edaran tersebut, fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah rendahnya publikasi karya ilmiah, baik di kalangan mahasiswa maupun dosen. Rendahnya publikasi karya ilmiah, antara lain disebabkan oleh lemahnya budaya membaca dan menulis dalam masyarakat. Dibandingkan dengan negara di Asia Tenggara lainnya, budaya membaca dan menulis bangsa Indonesia terbilang sangat rendah. Berdasarkan hasil studi Vincent Greanary, Word Bank menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa sekolah dasar di Indonesia relatif rendah. Indonesia mendapatkan nilai 51,7 di setelah Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5 (Sugihartati, 2010).

Studi yang dilakukan oleh Rosadi (2015) di salah satu perguruan tinggi swasta menunjukkan bahwa budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa sangat rendah. Dari 5.526 mahasiswa, tingkat kunjungan ke perpustakaan selama 10 bulan (Januari-Oktober 2015) hanya 13.38 %, budaya membaca dilakukan oleh 38 % dan budaya menulis hanya 1 %.

Menurut Abdurrahman Saleh (Nurahmad, 2016) sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV dibandingkan dengan membaca. Sebagian besar masyarakat, menonton lebih dari 3 jam setiap hari sedangkan membaca kurang dari 1 jam setiap hari. Bahan bacaannya pun sebagian besar hanya koran dan majalah. Tidak terlalu banyak orang yang membaca buku. Hal ini membuktikan bahwa minat membaca masih kalah dibandingkan dengan minat menonton. Padahal, membaca merupakan proses berpikir untuk memahami ide dan gagasannya secara luas (divergen thingking). Jika proses ini tidak terbiasa dilakukan maka kualitas dirinya akan sangat rendah (Pujiono, 2012). Dengan perkataan lain, jika mahasiswa tidak terbiasa membaca dan menuangkan gagasannya dalam karya ilmiah maka kualitasnya akan sangat rendah.